The IDWYG Syndrome – A Gamer’s Status Ailment

I Don’t Want The Game To End!

So I write it as¬†Idwyg Syndrome, it’s easier to read, pronounce and to remember than IDWGTES (I Don’t Want The Game To End – Syndrome).

Where did that “Y” from IdwYg come from? thats “easy to remember” part. Why? thats part i want to remember ūüėõ

Who made the term? well, It’s Me just now, or do you know who made it first? let me know.

I don’t know if this happens in other aspect of life, but in my gaming life, this psychological stuff often happens undesirably.

Usually, when i first bought the game and enjoyed it, i mean REALLY ENJOYED IT, I played it with heightened boost mood, I simply wont stop playing it, I forgot everything else (like i’m drunk). I immersed with the game more than i can be of anything else in this world-oh wait, sometimes reading good book make me feels this way too, not as often in gaming though.

Most of the games i played are RPG/JRPG which contains lots of character interaction, text, scenes and plots (no, it’s not about justice and plot you perv), but the most intriguing is if the game is about journey. It struck my brain to let them kidnapped myself across the screen no matter what size it is (TV or Handheld).

From scene to scene, steps to steps, ups and downs, seconds to minutes to hours to days to weeks, the excitement rarely wears down when it comes to my faved/loved game, so much happening in my brain, even I sleep thinking about it, heck i did dream of them too, like meeting the characters inside the game. Last time i met Makoto from Persona 5, I dunno maybe because I just love that kind of girl, or was it just sympathy about what happened to one of them? human feeling can be complex when it comes to reason of being attached, If i count how many hours i spent for video games due of being attached in my entire life, im sure it will be huge percentage as a whole.

For a non-gamers, how does it this excitement feel? maybe like a glutton person who never satisfy about food, like music enthusiast who never stop listening to music, like a collectors who never stop appreciate the painting or fine arts, like a detective who meet endless interesting case and much more, you name it.

Aside from the moment I cherish in those games, i often finding it….hard to let it end. I mean, it’s a basic psychology of human for “not want to lose something important”, but in video games… well, I dont actually lose them, the games will always there, the characters/people stay there, I can always play it again, again and again till I got sick of it. But I still have that feeling of losing them if I finished the game.

Hell, human mind just sick sometimes, especially when I know it occured and I SUBCONSCIOUSLSY want to prevent those things from happening. And that’s when this syndrome happens.

This Idwyg Syndrome usually happens without im realizing it, the pattern is:

When I know I’m about to reach the end of the game, the mood slowly toned down, Im starting to play less often, less hours, sometimes i just reach into start menu then switched off my console/handheld, I starting to look my new and old games or do other hobbies activity like reading, music and movies. at same moment i wanting to finish the game and move on with new ones, but the mood quota just never reach the desired standard so i let the game unfinished for weeks to months, even years (i remember it happened in standard Persona 3 in PS2 long time ago, took me 2 years to finish it).

This syndrome is nothing serious, but its just happens a lot and i still not have any instant cure for it. So far the cure only “Time”, as time passes human tend to “Miss” things they once had, and that when I come back playing the unfinished games. The risk of having this syndrome is to accidentally saw spoilers of them, it’s really bad, it can push the game further away and take longer time to able “Miss/Longing” feeling to activate.

I’m sure its not just me, maybe some of you had this syndrome too. But, People who’s too busy working doesnt count as having this syndrome, because I know that feeling too, the reason is due of tired, human mind just too limited for many tasks, gaming included as tasks.

Some people maybe not realized, the brain sees Objectives¬†in game as real tasks, since its involved physical activity include tapping buttons, typing keyboard (same like im writing this article), voice interaction (in online games or voice command supported games), Movement of whole body in dancing games and Virtual Reality, brain activity for solving puzzles, aaaand above of all, they connected to brain reward system that implemented in us from birth (or was it when we got self conscious?), the points/achievement gamers got could trigger the release of dopamine in our brain the same way we do achieve things in real life, it could be more extreme actually, I saw people playing countless hours of repetitive tasks just for virtual items or title (just text pop up in their character names or profile), which is at some perception they viewed as absurd or waste of time, its all due of exploitation brain system reward in MMO Games, I can’t blame them-wait seems like the topic going off track ūüėõ

Well, the point is, i have this syndrome and either this is good or bad, i guess its depend on the situation. Its always nice to have something to go back, especially for a gamer who love their games. Family, friends, and cats lol

So, does this status ailment ever got you too?

Thus i let The Idwyg Syndrome article to end.

Dude, finishing an article sure totally feels different than finishing the game.

 

 

 

 

Well, school sucks…but Thank God I’m a Persona User.

Persona.

Familiar dengan nama “Persona”?

atau kalian mikirnya “Terpersona”? haha, ngaco.

Dua juta tahun yang lalu (hyperbola), di jaman PS1, mendadak nongol game Persona 2 Eternal Punishment di beberapa toko game lokal,

Saya pikir, “Apaan tuh nama game kok Persona, dan itu di cover cewe pake baju love-love’an? ini game tentang apaan ya? gw kagak ngarti, mungkin jagoannya ngebunuh musuh dengan kekuatan cinta atau apalah”P2_EUA_boxart

tapi akhirnya saya beli juga, toh jaman dulu game mah murah, beli game minimal satu judul tiap pulang sekolah (tapi harus turun angkot jauh dari rumah, lalu lanjut jalan kaki) soalnya gak tau kalau itu game bajakan dan saya benar-benar IGNORANT tentang seberapa susahnya dan mahalnya memproduksi game, bahkan untuk membuat artwork sekualitas seperti di cover game ini saja orang biasanya meminta upah ratusan ribu rupiah, berpuluh-puluh kali lipat dari uang jajan yang saya keluarkan untuk bisa menyicipi sebuah karya seni yang  dulu saya tidak mengerti, hehe

Well, nama Persona ternyata sama sekali tidak jauh dari PERSONALITY, (bila ditambah “LITY” dalam sekejab judulnya terlihat lebih keren, game-ish, seperti “FATALITY, INVICIBILITY, ALTERNATE REALITY, dll)

Game ini memang dari dulu sudah unik, susah dimengerti, karena jaman PS1, game RPG dikenal dari judul-judul major seperti Final Fantasy, Suikoden, Breath of Fire, Legend of Dragoon, Xenogears dan teman-temannya, dimana game itu rata-rata mempunyai gameplay yang cukup simple, yaitu ikuti jalan cerita, level up, upgrade equipment dan explorasi dungeon.

Sedangkan, di Persona classic ini, memberikan tema yang cukup berat di level pengenalan/pengertian saya tentang game diumur segitu (sekitar sekolah menengah dan kemampuan bahasa inggris basic), dimana….”GW BENAR-BENAR GA NGERTI, INI GAME APAAN SEH?” *matiin PS, menaruh kembali disc game kedalam box.

Dan saat itu saya tidak pernah peduli lagi dengan game Persona 2 Eternal Punishment (kapan-kapan saya bahas tentang Persona classic 1-2)

Lalu sekitar 1.057,897 tahun kemudian (masih hyperbola), rilis sequel dari Persona 2.

IT’S PERSONA 3

persona3j
Darker but Cool

Ini benar-benar game yang berbeda.

Sebelum terjadi kesalah-pahaman tentang value game Persona 2, bukan berarti itu game mempunyai kualitas lebih rendah dibanding Persona 3 (dan sequelnya), kalimat-kalimat diatas cuma ekspresi keterbatasan informasi dan pengenalan saya terhadap game tersebut di masa sekolah. Tetapi bukan berarti saya merasakan zero experience dari game itu, pengalaman saya memainkan game Persona Classic justru kunci yang bisa membuat saya merasakan perbedaan dari formula Persona 3, walaupun cuma main sedikit, tapi terasa begitu signifikan.

Well, yeah let’s continue…

Saya mau tanya,

Bagaimana kehidupan kalian dimasa sekolah dulu?

Apa kalian menikmati sehari-harinya?

atau kalian depresi dan bosan dengan tekanan sosial?

Saya yakin “Depresi” adalah jawaban yang tepat (jangan ngeles, semua orang merasa seperti itu, bohong banget kalo masa sekolah itu penuh kebahagiaan, kepalsuan sih iya :P)

Berdasarkan sedikit informasi yang saya tahu, secara normal, rata-rata anak sekolah mempunyai beberapa masalah intens tentang istilah “Approval” dan “Fit in” di lingkungannya (ya, ini bukan masalah enteng, bahkan sangat rumit dimasanya), bisa dibilang hampir semua anak sekolah mempunyai masa-masa yang buruk, mereka bakal mati-matian mencari perhatian dari pribadi-pribadi lain, dimulai dari kompetisi sehat sampai menghancurkan karakter diri sendiri dan orang lain secara curang dan licik. Beberapa yang punya pribadi kuat ada yang memilih untuk punya jalan sendiri, tapi itu pun menjadi beban batin karena tekanan disekeliling mereka menjadi berkali-kali lipat lebih berat, semua harapan dan ekspektasi dimasa itu cuma terealisasi berdasarkan untung secara acak bagaikan main jackpot, selain itu mungkin ada yang populer cuma karena kaya atau cantik/ganteng, tetapi didalam hati penuh dengan perasaan takut. Bahkan mereka sama sekali tak tahu kenapa mereka melakukan semua itu.

Dan itu adalah tema dimana game Persona 3 dan 4 dibuat sebagai “Obat” atau “Salvation” masa-masa itu.

“STOP!”

Pembaca: “Mas ini gimana sih, saya pikir mas mau bahas game Persona 5 yang baru rilis, tapi kenapa malah bahas Persona2 yang lain?”

Seven: “SABAR!”

Ahem!

So, jadi gini, Persona 3 itu game tentang kehidupan anak sekolah, dimana karakternya (yaitu KAMU, atau setidaknya game ini membuat kamu merasa sebagai pemeran utama *secara psikologis) adalah seorang pemuda yang cool! yang hebat, mempunyai kekuatan terpendam dan sangat spesial, bahkan membuat para veteran jago jadi minder.

Kehidupan yang di deliver di game persona 3 membuat “impian” masa sekolah menjadi nyata. Dan impian itu seakan meresap dalam diri kita di sehari-hari kita memainkan game itu. Perasaan itu diciptakan¬†dari pilihan-pilihan yang kita tentukan, di setiap dialog yang kita baca, juga musik funky jazzy yang meningkatkan taste kita terhadap musik tertentu.

Game itu juga memberikan sebuah konsep relasi pertemanan/pacar terhadap orang lain yang terasa sangat rewarding melalui pilihan dan eksekusi timdakan yang sangat minim, hal yang sangat bertentangan sekali dengan kompleksitas dunia nyata dimana kita yang bersusah payah, dimana waktu dan materi yang sudah kita korbankan terhadap orang-orang yang kita kenal, tapi sama sekali tidak berdampak positif. Lebih parah lagi, malah mereka tidak menghargai sama sekali apa yang telah kita berikan. Bahkan ada pihak lain yang tidak bertanggung jawab mengambil kerja keras kita. Well…mungkin mereka adalah manifestasi dari eksistensi buruk manusia.

Put the negative reality aside, Kegiatan sehari-hari yang casual kita lakukan didunia nyata, terasa lebih berharga di dalam game.

Contohnya:

1.Ngopi di cafe sendirian ngebuat ngerasa tambah ganteng. Besoknya ngopi lagi, sampe seminggu penuh, lalu jadi ganteng beneran. Rewardnya bisa jalan bareng cewe inceran.

2. Sering-sering baca buku, lalu tiba-tiba ranking 1 di sekolah, cewe pinter disekolah pun ngelirik.

3. Sering-sering kerja malem, jadi pemberani, walaupun tujuannya ya sama, berani ngajak gebetan jalan.

Ya yang dipikir anak sekolah emang rata-rata cuma pacaran….

Dan masih banyak contoh-contoh yang lain dari game ini.

persona3stats1
Stats from in-game decision/activity. Pic source: Google

Lucunya, saya jadi….hahaha, entah kenapa, saya jadi ingin melakukan kegiatan di game itu juga. Dari kegiatan yang saya lakukan setiap hari (dunia nyata), dalam hati saya suka menambah point-point stats tertentu didiri saya, ya walaupun tak ada bukti efektifitasnya sama sekali, hehehe

Tapi point yang menarik dari simple activity di game ini adalah, membuat saya ingat atau sadar, sebenarnya kegiatan-kegiatan kecil didunia nyata itu menarik dan punya value. The game itself bring a little new meaning.

Tak lepas dari tema keseharian sekolah, game ini juga memberikan stimulasi penting dalam otak, yaitu rasa penasaran, normalnya didunia nyata, menjalani kehidupan sekolah sangatlah membosankan, cuma rutinitas sama sama setiap hari tanpa ada event yang fenomenal (ya mungkin beberapa tahun sekali terjadi), tetapi untungnya, game Persona memberikan sebuah dunia baru, secara harafiah, yaitu dunia yang cuma bisa dilihat oleh para pemeran di game, yaitu Persona user.

Dunia itu sangat misterius, hebatnya, game ini mendireksi kita secara perlahan-lahan kepada players untuk menyelipkan rasa penasaran yang menguji kesabaran diantara kehidupan sehari-hari. Bila dibuat perumpamaan, disaat kita lagi seru-serunya nonton film seri favorit, tiba-tiba bersambung dan terpaksa menjalani seminggu penuh untuk melihat lanjutannya. Bedanya, ya kita menjalani hari-hari didalam game, seperti belajar, ujian, jalan-jalan sama teman-teman, PADAHAL DUNIA LAGI TERANCAM, hahahaha….well,it’s video games.

Melibatkan Persona 4, game-game ini memberikan kita sebuah kehidupan sekolah impian dimana setiap hari penuh dengan excitement, indahnya persahabatan, masa puber, lepas tanggung jawab dan peristiwa fenomenal yang tak akan pernah kita rasakan di sekolah dunia nyata.

Persona 4  mempunyai semua formula dari Persona 3, bahkan lebih. Perbedaan signifikan Persona 4  adalah, dia mempunyai atmosfir yang lebih ringan dibanding Persona 3 yang sangat serius dan dark.

Persona 4 memberikan kehidupan sekolah yang penuh dengan humor, dimana Persona 3 mengelilingi kita dengan misteri.p4jokes

Kedua game itu tak terlalu rumit dibanding Persona classic dalam hal gameplay dan tema, mereka lebih condong memperlihatkan visual artistik yang dikonsepkan dari pikiran manusia, cukup aneh lebih tepatnya. Karena memang segala jenis keanehan itu bersarang di pikiran manusia, saya yakin kalian suka mikir yang aneh-aneh, iya kan? ngaku aja, hehehe ūüėõ

Daaaaaann, kita lanjut ke:persona-5-2

PERSONA 5!

Wohoooo finally rilis juga ni game! cukup lama lho penantiannya, dulu sempat di umumkan rilis tanggal 14 Februari, ternyata mereka tunda, jadinya entar-entaran, sampai tanggal 5 april. Tapi bagus deh daripada ga keluar sama sekali hehe

So guys….

sayang sekali, mimpi kalian cukup sampai Persona 4 saja…

Persona 5, kali ini mereka ganti tema, BACK TO REALITY.

This is no longer your happy school life.

because..

SCHOOL SUCKS!

Damn it!

Gw juga udah capek nulis secara formal, jadi gw ngomong casual aja ya sama lo, anggap aja sekarang kita lagi di cafe dan gw secara antusias ngejelasin game ini didepan lo dan lo yang bayarin coffee latte gw, hehe.

So, Bener-bener pinter sih menurut gw, development team Persona Game pasti sadar kalo tema kehidupan sekolah impian itu ga mungkin di implement lagi di game ini, pasti nanti cuma jadi “Another Persona Game with Different Characters”, jadi boring. So, mereka coba untuk ingetin kalian lagi seperti apa itu realita dunia kehidupan sekolah. Betapa enegnya pergi kesana ngeliat kepalsuan-kepalsuan para penghuninya, betapa ga enaknya after taste sekolah seakan abis makan makanan hambar. Kontras warna merah di game ini juga serasa meneken kepala gw sampe pusing, musiknya cenderung lebih gloomy seakan gw semaleman curhat sama bartender di bar remang-remang untuk ngilangin stress. Seriusly, gw lebih cepet capek main Persona 5 dibanding main game lain, kadang-kadang gw main sampe pagi (ya karena asik) cuma untuk berakibat badan gw ambruk seharian, jadinya siang-siang gw lebih banyak tidur secara acak, (sori yah yang Line messagenya gw bales berjam-jam kemudian, malah kadang jam 3 malem baru bales:P) mungkin ini salah satu kenapa bioclock gw berantakan.

Menurut gw, tema yang mereka sampein-eh sampaikan di Persona 5 tuh dapet banget, seperti yang gw bilang, Back to reality. yaitu kehidupan dimana eksistensi lo dipertanyakan, dimana approval seakan menjadi kewajiban yang harus diperjuangkan, juga keinginan selalu terasa menjadi beban, jelas banget emang hidup itu terasa dipenjara.

Di Persona 5, diri lo (karakter yang lo maenin) bakal di posisikan/dilabel sebagai kriminal, jadi dari awal main lo udah diperlakukan kaya penjahat, gosip jelek diri lo udah tersebar ke seluruh sekolah, kemanapun lo jalan, semua bakal bisik-bisik, setiap orang yang lo ajak ngomong bakal minta lo untuk jauh-jauh supaya image mereka ga rusak, bahkan kalo lo jawab pertanyaan guru dengan bener, mereka seakan ga percaya kalo lo pinter (padahal emang lo nyontek ke google atau asal jawab ga sengaja bener, ya kan? ngaku aja lah :P) , kalo lo salah jawab, mereka bakal ngata-ngatain lo pelan-pelan. Saat lo belajar di perpustakaan ga ada yang berani natap lo, soalnya takut bakal lo bunuh, I mean what the hell maan?

Well-well, tapi justru itu lah letak asiknya game ini.

Tema kenyataan di Persona 5 itu segitu kental dimana biasanya didunia nyata kita pasti berkhayal untuk mengubah keadaan itu, iya ga?

Jadi kerennya Persona 5, lo bakal ketemu sama orang-orang yang hidupnya juga ancur, penuh tekanan dan ga bisa berontak, itu serasa hidup tapi nahan marah terus-terusan, umpamanya, pasti ada donk orang-orang yang lo keselllll banget didunia ini sampe lo mau bunuh tapi ya apa daya, dunia ini penuh dengan konsep dosa dan hukum,jadinya lo ga bisa berbuat apa-apa, feels relate? hehehe

So, Bersama orang-orang ini, lo secara ga sengaja (Atau takdir) dapet super power untuk ngubah semua itu! YOU ARE A PERSONA USER!

AND YOU DO IT WITH STYLE!!!~p5style

Yes, bener, game ini penuh dengan style, bisa dibilang norak ga ketulungan, tapi “Noraknya keren” ngerti kan maksud gw? hahaha

Setelah tamatin Persona 3 dan 4, design level dan pola progress Persona 5 bisa dibilang evolved, jadi sekarang bukan cuma sekedar jalan gebuk-gebuk musuh sampe boss, tapi lebih banyak requirement dan puzzle yang harus dilakuin, bahkan main dungeon ini ga lagi random, tapi bener-bener menyatu dengan story yang dijalanin, beda dibanding Persona sebelumnya yang dimana semuanya random generated dungeon (cuma beda pemandangan sekitar). Musiknya juga masih tetep khas, dimana lo pasti ada rasa mau joget-joget santai dikamar sambil sedikit begaya, hahaha

Dungeon ini ada beberapa segmen, tergantung dari story, tapi di segment terakhir itu selalu: “Saatnya kita beraksi”, “Woohooooo let’s go guys!”

Di segmen itu musiknya akan berganti jadi tema phantom thief, ngasih atmosfir film anime tahun 80an yang entah kenapa kok kerasa keren, feelnya dapet, malah gw yang ga ngerasa film type anime jadul itu keren, jadi mikir “Kayanya anime model gitu keren deh, nanti coba nonton ah”, game ini seakan terinspirasi anime dan menginspirasikan balik player ke anime tersebut, it’s amazing!

Itu adalah kehidupan lain kalian di game ini diantara resahnya dan ketatnya kehidupan disekolah.

In Depth Gameplay

Seperti yang kalian tau (atau baru tau), Persona RPG series itu gameplaynya turn based dan mengandalkan strategi untuk exploit weakness musuh. Konsep battle di Persona 5 masih sama, cuma semakin bertambahnya sequel Persona series, maka semakin di expand fitur battlenya, kali ini di Persona 5 kalian bisa menggunakan 2 type senjata, Melee dan Ranged (ranged ga bisa dipakai kalau peluru habis, sehari sekali akan ter-reload, jadi jangan boros), ada juga fitur “Baton Pass” dimana player bisa kasih Turn ke member lain saat berhasil exploit weakness musuh dan lain-lain.

Yang paling menarik adalah, betapa rewardingnya meningkatkan social link orang-orang disini. Dibanding Persona game sebelumnya, di Persona 5, tiap social link selalu ngasih fitur baru juga yang berguna, contohnya ada yang unlock Customization Gun, ngajarin buat kopi, unlock tempat hang out baru, daaan lain-lain.

Untuk yang pernah main Persona classic (1-2) maka fitur digame itu kembali di implement di game ini. Saat musuh terpojok, kita punya pilihan tambahan selain “ALL-OUT-ATTACK”

yaitu Berdialog: 1. Minta dia jadi Persona, 2. Minta Uang 3. Minta Item

Kalian akan diberi beberapa pilihan dialog untuk respon pertanyaan mereka, kalau gagal (salah pilih), mereka bisa kabur, serang balik atau bahkan manggil reinforcement. jujur ya, pertanyaan mereka absurd, malah curhat masalah pacar mereka, hadeeeh (For your Info: Malak shadow itu membuat kaya, hihihi)

Persona 5 itu banyak ngasih suprising reward ke player yang ngebuat game selalu terasa fresh.

Seperti yang tadi gw bilang tentang dungeon yang fix, game ini ga membuang konsep random dungeon ala Persona 3/4, type random generated dungeon ini masih bisa diakses, sebagai salah satu fitur penting di game, disana kita bisa grinding level, capture Persona, collecting loots dan juga sub quest, bahkan lebih asik, karena disini kita naik mobil, ga lagi jalan kaki kesana kesini sampe capek, short cut/check point pun selalu tersedia di beberapa floor, kedalaman dungeon ini akan bertambah seiring story berjalan, jadi saat udah mentok (terkunci), artinya kalian cukup balik ke dunia nyata dan jalanin daily activity atau story, ini serasa menghilangkan unsur keinginan tidak langsung untuk terus explore random dungeon sampe mentok paling bawah.

Elemental property di Persona 5 pun bertambah, sekarang ada element Nuclear dan Psi, ini menambah variasi untuk battle yang strategis.

Untuk daily activity, beberapa sub quest sekarang mempunyai requirement untuk bekerja ditempat tertentu untuk lanjut progress, ada juga main video game, sewa dvd (hati-hati jangan telat balikin, nanti kena denda), lokasi yang kalian unlock dari baca buku atau social link bisa digunakan untuk dating atau hang out bareng teman, disini kalian juga dikasih kesempatan untuk ngasih Gift untuk mempererat hubungan. So basicly kegiatan di game makin banyak, tugas kalian untuk hapal mana yang berguna untuk dilakukan di kondisi tertentu, yang pasti meningkatkan stats kepribadian main character itu penting untuk menambah teman social link, dimana mereka akan memberikan fitur-fitur berguna untuk keseluruhan game dikedepannya~

Characters

You know, karakter-karakter di Persona 5 benar-benar unik dan lovable. Story game ini mengeksploit tekanan hidup mereka sehingga menghasilkan emotional expression yang cukup dalam, sebagai player aja gw sampe ada rasa empati, kadang ngebuat gw sedih cukup dengan ngeliat artwork muka tertekan mereka didepan layar, sigh…

Rasa empati terhadap para karakter ini ngebuat gw betah untuk terus ngeliat perjuangan mereka, dalam team ini mereka semua meng-acknowleged kekurangan dan kelebihan masing-masing, Semua karakter digame ini adalah “Reject” dan “Victim” dari figur yang berkuasa, dan semua bersatu untuk menciptakan “A place where they belong in helpless society”

Awalnya cukup serius, tetapi makin lama obrolan-obrolan mereka juga cukup menghibur loh, gw setiap malem ngakak-ngakak sendiri dikamar sampe pagi ngedengerin dan liatin tingkah mereka, they’re quite memorable i think.

Sampe saat ini sebenernya gw belum tamat, ini cuma senggang aja mau nulis artikel tentang game ini selagi ada mood, dan juga untuk take a break main game karena udah berhari-hari mainin game ini nonstop, gw pun mencoba untuk ga membahas point-point penting macam tema cerita, nama-nama karakter dan juga traits mereka, kalian bisa eksplor sendiri nanti. Dan…hadeh, lelah euy…. (mungkin ada beberapa segmen yang terlewat untuk gw bahas, tapi gampanglah nanti gw edit)

Jadi ada bagusnya gw sudahkan artikel taste of Persona 5 sampe disini, sisanya kalian bisa coba mainkan sendiri atau yang udah punya, silahkan lanjutin main, (Thanks ya untuk yang udah beli dari gw, VERY MUCH APPRECIATED, this article also manifestation of my thanks to you guys).

PS: Atlus sampai saat ini memblock fitur screenshots dan streaming PS4, banyak kontroversi terjadi, tetapi berkat restriction ini, saya jadi bisa merasakan full experience yang memang ingin di deliver atlus tanpa dirusak oleh para orang-orang yang suka posting spoiler di timeline facebook, psn, instagram, twitter dan lain-lain. It makes me feel secure and progressing the game at ease, this kind of feeling is priceless. So, thanks Atlus~

“And for people across the screen

Thanks for reading”

You can support me too by buying the game at https://www.instagram.com/sevenifity/ or https://www.instagram.com/sevenifitystore/

Line: Sevenifity

Nier: Automata – A Philosophy in Disguise.

Dulu….

Ada game yang namanya Nier Gestalt, ceritanya tentang bapak sayang anak, dimana si bapak rela mati-matian kerja side quest sana-sini cuma demi beliin anaknya obat, walaupun sebenernya penyakit itu tak ada obatnya. Di salah satu questnya dia membuka segel sebuah buku hidup bernama Weiss demi mengalahkan robot yang terlalu kuat, dan semenjak saat itu mereka berteman…pertemanan yang penuh argumen. Maka dimulailah petualangan si Bapak”bodo amat yang penting anaknya sehat”, si buku yang suka berdebat, cewe¬†bermulut kotor tapi tsundere dan anak kecil yang tampangnya serem ga ketulungan tapi berhati baik (si anak dan si cewe galak sampe disuruh tidur diluar sama orang sekampung dimana si bapak boleh tidur di Inn).

Disamping humor-humor yang bertebaran, Nier Gestalt…adalah sebuah game yang dark.

Contoh:

Quest: Seorang kakak beradik meminta tolong untuk mencari ibunya yang tak kunjung pulang, mereka kuatir ibunya diserang monster saat bepergian untuk mencari bahan bertahan hidup.

Di ujung quest:

Game lain: Player menemukan ibunya sedang terpojok, dikelilingi monster yang mau membunuhnya, lalu player menyelamatkan sang ibu disaat tepat, lalu pulang dengan bahagia.

Game Nier: Ternyata  ibunya meninggalkan anak-anaknya untuk lari bersama  pria asing dan ditemukan meninggal ditengah lorong bersama dengan barang kosmetiknya yang terhampar dilantai. Player pulang dengan tangan hampa dan harus memilih untuk berbicara jujur atau bohong tentang apa yang terjadi pada ibunya.

Saya cuma bisa menghela nafas…

Bukan cuma itu saja, kadang-kadang game itu membuild sebuah cerita asing seperti flashback dimana membuat kita simpati dengan makhluk-makhluk tertentu, lalu game ini menjadikan mereka sebagai makhluk jahat yang harus dibunuh habis-habisan. Player tahu kalau mereka tak jahat dan tak bersalah, player tahu kalo makhluk-makhluk itu di fitnah oleh seorang NPC, tapi si bapak dan teman-temannya tak tahu sama sekali bahkan sampai gamenya tamat.

Lagi-lagi saya menghela nafas…

Kurang lebih itulah yang saya kenal dari game Nier Gestalt. Gameplay Battlenya sendiri saya tak suka, karena terlalu kaku, grafik juga tak terlalu bagus, tapi battle dan grafik itu tak sebanding dibanding value tinggi dari game ini, game ini punya alasan tersendiri yang membuat saya sangat amat teramat suka, apakah itu? rahasia ūüėõ

Oh iya, Sebenernya game Nier ada versi 1 lagi, namanya Nier Replicant, dimana di projek ini, ceritanya adalah kakak sayang adik. Cerita utama sama persis dengan Gestalt, cuma karakter utama diganti jadi cowo muda. sedangkan karakter yang lain tak ada perubahan. Nier Replicant hanya tersedia versi Jepang.

Well, itulah sedikit tentang Nier Gestalt/Replicant dari saya, dan kita menuju ke pembahasan utama,

Nier: Automata

NieR_Automata_20170228182816Jujur ya, kesan pertama saya tentang Nier: Automata, game ini terkesan kurang berbobot, karena apa? ya karena dilihat dari design karakternya, yaitu seorang wanita cantik dengan pakaian yang elegant di dunia yang hancur (ga nyambung kan?), satu lagi seorang cewe dengan baju koyak-koyak supaya terlihat sexy. Pikir saya sih “Hadeehh, ini mah isinya fan service doank! formula murahan lama dimana menjual -boobs and ass- ¬†para karakter untuk menarik minat pembeli terutama cowo dan lesbi yang dimana sampai sekarang masih trend, dan anehnya game ini juga punya karakter anak cowo, pikir saya “Tanggung mas, kenapa ga semua karakternya aja cewe, buat salah satu jadi loli supaya semua pilihan selera ada“. Saya pikir, mungkin, game ini tak akan mempunyai arti dalam yang sama seperti Nier Gestalt/Replicant.

Sigh…jadi alasan pertama saya sangat ingin memainkan Nier: Automata adalah….. BATTLE GAMEPLAY. Yup, hanya itu. PlatinumGames telah membuat saya gila dengan gameplay legendary mereka semenjak Bayonetta di PS3/XBOX360, juga Vanquish yang saya nobatkan sebagai best 3rd person shooter ever, ditambah Metal Gear Rising dengan konsep counter attacknya yang keren. Ya, tentu saya Devil Mat Cry juga, tapi dibawah nama Capcom.

Ya, awalnya saya pikir cuma itu…

saya mau main game dengan gameplay bagus dengan karakter-karakter cewe sexy dan kalo bisa karakter yang cowo bisa di skip, ga usah dimaenin bisa tamat.

But…I NEVER BEEN SO WRONG.

Semua wanita cantik, berita viral tentang bagian belakang 2B (WTF you internet people?) dan segala sesuatu tentang rangsangan otak sexual yang di implement di game-game sekarang, semua cuma itu samaran di game ini, it’s just a cover!

“The Game is All Philosophy!” teriak Seven terkaget-kaget sambil menutup mulutnya dengan dua tangan.

Wait!!! untuk awal-awal, saya jelasin dulu yah tentang GAMEPLAY-nya.

Well, ini adalah game Action RPG dengan konsep Open World, tetapi ini juga adalah game macam Arcade Flight Shooter, dua genre itu akan dicampur aduk dengan cara silih berganti ditempat-tempat tertentu dan kondisi-kondisi tertentu., lebih tepatnya…”suka-suka game ini”, kalian harus siap dengan transisi cepat pergantian genre ini dimanapun dan kapanpun.

Action RPG Genre

Salah satu karakter bernama 2B akan mempunyai dua senjata yang bisa di pakai di 2 slot. Slot 1: Normal Attack, Slot 2: Heavy Attack. Semua jenis senjata dari yang ringan sampai yang berat bisa kalian pakai di slot manapun,  dan game ini memberikan 2 Set Slot, jadi total 4 senjata yang bisa dipakai (2 senjata setiap set).

Set moves senjata ini terbagi menjadi 5 Kategori: Bare Handed, Small Swords, Large Swords, Spear dan Combat Bracers. Contoh: Semua Small Swords punya set moves yang sama.

Walapun set moves per-kategori itu sama, tetapi mereka mempunyai efek yang berbeda setelah di upgrade, untuk kekuatan tiap senjata, mereka mempunyai keseimbangan, jadi tidak ada senjata yang terlalu lemah atau terlalu kuat, semua tergantung efek yang kalian mau pakai.

Yang barusan saya jelasin itu tentang 2B. Nanti kalian akan bisa memainkan karakter bernama 9S (yang cowo), dia mempunyai cara bertarung berbeda, saya tak akan jelaskan disini, sisa gameplay para karakter biar kalian lihat sendiri aja nanti.

Element battle penting game ini juga terletak di Pod, yaitu sejenis robot terbang yang mengikuti kita dari awal sampai tamat game, ga pernah lepas, mereka berfungsi sebagai “Shooter genre” di game ini, program skill mereka juga sangat ampuh dan banyak macamnya, dimulai dari laser, missile, gravity dan lain-lain.NieR_Automata_20170224200742

bukan cuma offensive, game ini juga mempunyai defensive system yang keren, yaitu Shift/Avoid, dimana dengan menekan tombol evade diwaktu yang tepat, karakter akan kebal dan bisa counter attack, tenang saja, timingnya ga terlalu ketat kok, tidak seketat Bayonetta atau “Just Defend”nya Ryu dari Street Fighter. Cuma jangan kebablasan aja asal tekan tombol counter dengan senjata yang salah.

Secara keseluruhan, battle gameplay sangat menyenangkan, so much flashy! keren! ditambah lagi dengan koreografi elegant para wanita-wanita android ini, juga dengan style ala Neo The Matrix’nya 9S, saya main lebih dari 50 jam ga bosen-bosen (udah diatas 80 jam saat nulis artikel ini). Tapi warning ya, ga semua orang bisa menghandle 2 genre sekaligus, saya saranin kalian main yang normal mode aja dulu, seperti penjelasan yang di berikan dalam game “Probably the most enjoyable mode”, yes I agree. Diatas itu, ada Hard Mode, yaitu ¬†mode yang berdiri diantara 2 hal, Challenging or Frustrating. Mode dimana kadang-kadang musuh bisa one hit kill kita tanpa terduga, apalagi kalau kita “sedikit” underleveled, apalagi gamenya mematikan fitur lock-on, sehingga kalian harus menggerakan kamera secara manual untuk menghadap musuh. Hard Mode akan terasa lebih “aman” apabila kita memakai Defense Plug In Chip (anggaplah accesories) yang menambahkan HP, Mengurangi Damage, anti-one hit kill dan lain-lain. Kalian akan menemukan banyak jenis Plug In Chip di game ini dan sangat efektif. Saya suka attack Plug In Chip Shock Wave, jadi saya bisa Sonic Boom ala Guile setiap melakukan serangan. Dan Very Hard Mode, sudah jelas ini adalah Frustasi Mode, setinggi apapun, pakain plugin apapun, kita akan dibunuh cukup dengan 1 Hit, bahkan cuma kesentil.

Anyway, semua battle system tadi berlaku di 3rd person view dan side scrolling view, yup side scrolling view ala castlevania. Kalian pernah main Castlevania symphony of the Night? Dawn of Sorrow? suka dengan game-game itu? maka ga masalah dengan game ini. Kalau belum pernah atau tidak suka dengan game yang saya sebut barusan, maka…deal with it.

Flight and Shooter Genre

Di permulaan game kalian akan langsung di suguhi genre ini, kebanyakan orang mungkin berpikir “Loh, ga salah game nih? kok beda sama di trailer dan youtube-youtube’an yang gw liat? perasaan bukan game kapal-kapalan deh”…..

Ya seperti yang saya bilang, “Suka-suka game ini”. Oke, jadi, Shooter Genre ini pun dibagi dari beberapa persepsi, Shooter vertikal (Contoh: Raiden DX, Raystorm), Shooter Horizontal (Contoh: Einhander), juga dari satellite view dimana kalian membidik 360% menggunakan analog kanan (Contoh: Helldiver, Alienation).

Dalam flight mode (menggunakan Flight Robot Suit) kalian tetap bisa melakukan melee attack, malah itu sangat penting karena bisa menghancurkan sebagian besar peluru musuh, kecuali sejenis laser cannon. Yang namanya game shooter pasti ada Special Attack ala “Bomb”, disini bisa dilakukan dengan menekan tombol pod skill, enaknya cukup dengan cooling down beberapa detik maka kalian bisa mem-bomb lagi.NieR_Automata_20170307021847

Yah, itu sebagian besar gameplay battle dalam game ini yang saya bisa jelaskan. Untuk kalian pencinta action game yang sangat cepat, ini bakal cocok banget dimainkan, tapi bila kalian benci game shooter (game kapal-kapalan dingdong – 90’s kids will know) maka kalian harus deal with it, sebenernya walaupun kalian tak suka game shooter, tetep asik dimainkan kok, karena setiap kita meledakkan musuh, ada rasa crunchy yang terangsang di otak seakan kalian sedang makan snack, yup, “snack of destruction”.

Anyway, kalian suka Musik?

Music

Musik di game ini sangat AMAZING, saya tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata, nanti saat dimana tercipta alat baru yang bisa membuat kuping berbicara, saya akan upload video lisannya dan saya akan memuat linknya disini.

Insert Link Here: (not available yet)

lanjut dengan pembahasan selanjutnya, dimana jaman sekarang game condong ke arah…

Open World!

Sebagai game yang memasukan element Open World, bisa dibilang….World’nya ga terlalu luas. Bisa dihitung dengan jari kedua tangan orang normal untuk jumlah area utamanya. Eits, jangan kecewa dulu, pernah denger ga yang namanya Quality over Quantity? Yes, it’s highly explorable. setiap area itu banyak cabangnya, termasuk beberapa area rahasia yang setelah main beberapa puluh jam saja tak sengaja saya menemukan area baru ( atau mungkin aja saya ga sengaja ke skip), menurut saya, takaran open worldnya “Pas”, banyak game loh yang memakai unsur open world tapi isinya cuma dataran copy paste environment yang kontennya nihil, tapi untungnya game ini tidak memakai cara itu.

NieR_Automata_20170224200956“Apa? kalian tanya pemandangannya bagus apa ga?”, hmm, bisa dibilang pencahayaan dan warnanya bagus, tapi untuk pemandangan…guys, ini dunia yang telah runtuh, pasca apocalypse.Ya gimana ya jelasinnya, oh oke, saya punya kata yang tepat “Beautiful World of Ruins”

Oke cukup.

Sekarang ke pembahasan utama…

Ingat reaksi kaget saya di awal-awal artikel ini?

Oke, to the point deh…

Plot of the Game

Jadi inti dari game ini….

Eh….

…………..

Hahahaha….

Waduh gimana jelasinnya nih? sebenernya ¬†ga boleh dikasih tahu, karena ya intinya………kalian ga boleh tau apa-apa tentang game ini sebelum main.

Kalian seharusnya-eh salah, bukan “Seharusnya”, tapi “Sebaiknya“, ya saya tidak mau memaksakan persepsi saya terhadap kalian ya, tetapi ‘sebaiknya’ kalian main game ini dengan mindset “telah terpengaruh” oleh mainstream media. Ngerti maksudnya?

Kenapa begitu? ya karena game ini akan mematahkan semua “pikiran terpengaruh” itu perlahan-lahan.

Seperti yang saya tulis di judul dan awal artikel ini.

“Game ini adalah filosofi secara keseluruhan”

Game ini mengerti “cara berpikir” manusia, game ini mengerti “default setting mindset” rata-rata orang jaman sekarang. ¬†Mass particle shaped disc and digital data named Nier: Automata ini bermain di pikiran itu dengan bentuk samaran, yaitu sebuah video game.

Awal-awal saya pikir plot game ini enteng, dimulai dengan bagaimana mesin mendevelop sebuah pikiran, dimulai dari pertanyaan-pertanyaan dan tingkah para mesin yang terkesan konyol dan bodoh. Formula lama yang biasa di implement di film-film animasi hollywood dalam beberapa dekade ini. Tetapi itu ternyata hanya awal…sebagaimana kita lahir sebagai bayi.NieR_Automata_20170224214800_1

Game ini sendiri adalah sebuah pikiran dan pesan tentang Existence and Truth.

Kalian pernah liat beberapa comments di social media tentang game ini? yaitu tentang game ini cepat tamat? durasi cuma 10 jam, speedrun cuma 4 jam? tak lama langsung ending.

Ya, Ending.

Apa itu istilah Ending? apa yang terproses dalam pikiran kalian saat kalian menyelesaikan game dan melihat ending credits. Saya yakin stimulasi otak terhadap game tersebut akan menurun. Ya, game ini tahu hal itu. Lalu apa yang game ini lakukan setelah itu? jujur, game ini tahu persis apa yang harus dia lakukan terhadap saya.

Game ini pun bisa memilih true player/audience mereka. Dengan cara mereka sendiri. yaitu menyeleksi mereka melalui influence mainstream media yang terjadi, bila player tak mengerti, mereka tak akan memilih game ini, atau mungkin baru ingin main setelah membaca review macam ini atau setelah membaca review pujian-pujian di beberapa situs game lain.Ya seperti itulah otak bekerja. Pada dasarnya game ini diciptakan untuk fans Nier pertama.

Saya pikir kalian pasti juga belum tahu karakter utama sebenarnya dalam game ini.

Intinya, game ini mempunyai istilah “Breaking The Fourth Wall”, dimana banyak sekali element of surprise terjadi. Berdasarkan etika dan kode etis yang saya pahami, detik-detik saat saya menulis artikel ini, saya tidak boleh membahas hal itu (game ini baru saja rilis di benua eropa dan amerika), ya maksudnya, saya tidak boleh spoiler, hohohoho (Saat ini kalian yang menyebarkan gambar-gambar dan kata-kata spoiler game di sosial media, sepertinya kalian kurang punya kesadaran diri kalau kalian merusak value game ini)

Game ini tidak bisa dimainkan setengah-setengah, untuk mengerti value dan pesan filosofi game ini, Nier: Automata harus dicerna secara keseluruhan, yaitu termasuk dialog para NPC dan beberapa text yang tersebar.

Bukan cuma pikiran, game juga bermain dengan emosi, jadi…hati-hati.

You know, tepat setelah saya menyelesaikan ending credits dan berhenti meneteskan air mata (lucunya ini bukan karena sedih atau bahagia), saya langsung kirim message kepada director game ini, Taro Yoko. saya cuma mengucapkan beberapa kata apresiasi terhadap sebuah karya seni mutlak yang dia berikan di industri game. So, once again, Thank You Mr.Taro Yoko.

NieR_Automata_20170225114754_1
Taro Yoko is the man who always wear this mask in gaming media public.

Oh well…

Berapa lama ya tadi saya bilang? itu, gameplay time saya…

Oh iya, 80 jam.

Thats one of 80 hours best of my life!!!

Sampai disini saja artikel pembahasan saya tentang Nier: Automata

Sebelum berhenti mengetik, tadi saya sedikit melewatkan sedikit tentang sistem game ini yang sedikit mirip Dark Souls, jadi dimana saat karakter kalian mati, kalian akan dikasih kesempatan untuk mengambil kembali EXP yang telah terakumulasi dan Plug In Chip yang terpasang di mayat kalian.

Terus apa lagi ya yang tadi saya mungkin lupa jelaskan…

Oh iya, semua nama Boss dan NPC di game ini berdasarkan para Philosopher terkenal, contohnya, Immanuel Kant, Hegel, Engels, Auguste dan beberapa lagi.

ah sudahlah, capek.. (what udah jam setengah dua!?)

eits, ada beberapa tips deh sebelum saya istirahat.

*Saat baru mulai main, jangan langsung pilih hard mode, game ini bisa one hit kill kita saat transisi cutscene, walaupun niat kita untuk challenge, tapi mati dengan cara begitu tidak adil, tidak ada save point di prologue, kalian akan mulai dari dialog awal game, memakan waktu sangat lama (gapapa kalian bisa ulang lagi nanti).

*Kalian coba deh otak-atik asal system setting awal setelah prologue. Kenapa? ya iseng aja, hihihi.

*Pas ending credits, saya pake headset, itu kebetulan, tapi saya bakal menyesal apabila tak pakai headset.

That’s it! I’ve come up with new reci-eh, I mean, Thanks for reading ~

 

Mana itu game yang mirip Dark Souls dan Onimusha? “Oh ini!”-eh salah, “Nioh”.

Oke, jadi gini, saya dari jaman dahulu kala sebenarnya pencinta game yang bernama Onimusha, itu sejenis game Resident Evil Classic Style-Samurai di saat PS2 masih populer, karakter utama game itu Takeshi Kaneshiro (artis jepang asli loh, dulu terkenal tuh film dia, kalo gak salah judulnya The Returners) sebagai Samanosuke Akechi, kalau kalian baca novel sejarah pasti familiar dengan Mitsuhide Akechi yang memberontak Oda Nobunaga. Nah, Samanosuke ini diceritakan sebagai anaknya Mitsuhide Akechi yang secara fiksi melawan Oda Nobunaga dengan kekuatan cinta-eh, entah saya lupa, sepertinya dengan kekuatan Jiwa atau apalah (atau mungkin kekuatan bulan?). Saya dulu main semua seri Onimusha, tapi saya samar-samar mengingat detail plotnya, tak apalah, toh yang mau saya bahas itu game lain kok. Yup, game yang saya maksud adalah NIOH. Sebuah game Samurai yang mengingatkan saya akan Onimusha.

Saat saya menulis artikel ini, game NIOH belum di rilis, jadi saya akan menuliskan pengalaman saya saat bermain DEMOnya. Kenapa? entah, saya suka saja main game ini walaupun cuma demo. kenapa (2)? karena, game ini mempunyai konsep gameplay yang mirip dengan game favorit saya sepanjang masa. Game apa? tentu saja…

DARK SOULS.

sekali lagi, lebih dramatis…

DARK SOOOUUULLLSSSSSSSSS! 

Well-well, saya tidak akan dengan kasar membilang game ini adalah “Dark Souls Clone“, saya bisa bilang dengan istilah yang lebih sopan, yaitu “Inspired by Dark Souls“.game.

Hmm, apabila¬†Sebuah Game menjadi inspirasi ¬†bagi game-game lain (Lebih dari 5 game) dengan cara ditiru/dicontoh gameplaynya secara inti, apakah itu bisa disebut sebagai “Genre”?

Contohnya: “Monster Hunter”, setahu saya, Monster Hunter adalah pelopor dari semua hunting multiplayer game yang tren dalam waktu dekade ini, kita bisa dengan mudah menyebut game-game ¬†seperti Toukiden, Freedom Wars, God Eater sebagai “Hunting Game

Maka, untuk menyebut game-game lain yang mengambil konsep seperti Dark Souls (atau Demon Souls untuk players yang veteran), mungkinkah kita bisa sebut genre itu sebagai “Souls”?

Oke, gini saja, secara tidak resmi saya akan menobatkan Nioh sebagai “Samurai Game with Souls Genre”

Let’s start The Demo

For your Information, Nioh adalah game exclusive PS4. Nioh Demo hanya bisa dimainkan dalam waktu terbatas, apabila player bisa menyelesaikan demo selama periode berjalan, maka akan mendapatkan 2 DLC khusus, Mark of The Strong dan Mark of The Conqueror, saya tak akan membahas DLCnya disini, karena…saya tak tahu apa isinya hahaha. Sebenarnya sengaja tak saya cari tahu, untuk surprise aja nanti saat main full gamenya (kalau kalian penasaran tanya mbah Google saja ya nanti, oke? sip)

So, game ini bisa dibilang lumayan sulit, maksudnya, kita tak akan berhasil menaklukan lawan apabila menyerang mereka dengan menekan tombol serang terus menerus. Game ini memakai sistem stamina (ki) yang digunakan untuk “menyerang, menangkis dan menghindar”, apabila player secara tak sengaja (atau sengaja) menghabiskan Ki, maka penaltinya sangat bahaya, player tak akan bisa bergerak beberapa detik dan rentan untuk diserang oleh Killer Move musuh.

Alangkah baiknya bila kita bertarung secara strategis, “Timing is everything”, setiap senjata mempunyai timing yang berbeda, dibagi dengan 3 style berbeda yang timingnya juga berbeda-beda. Yang saya maksud adalah “Stance”, yang terbagi dari: Low, Middle dan High.

Low stance: Gerakan cepat, serangan lemah. Middle Stance: Seimbang antara Kecepatan dan kekuatan serangan. High Stance: Gerakan lambat, Serangan Kuat.nioh-last-chance-trial_20170122211914

Jadi, kita pun harus tahu kapan harus menyerang, menangkis atau menghindar. Dan kita juga harus tahu serangan dengan stance apa yang cocok dilakukan pada momentum itu. Lokasi pun berpengaruh, selama saya memainkan game ini, sering sekali saya terjebak ditempat sempit atau lantai terjal yang bisa membuat saya terjatuh bila salah langkah. Game ini tidak memakai sistem berenang, apabila jatuh ke air yang dalam, maka dianggap mati, entah..mungkin karakter utamanya tak pernah belajar berenang waktu masih kecil, padahal katanya berenang sehat, terutama untuk para penyanyi (latihan nafas untuk vokal).

Hal yang saya suka dari Souls¬†Genre, Saya cenderung berjalan pelan-pelan saat menulusuri area baru, karena banyak sekali hal yang mengagetkan disana. Saat kita melihat fokus kedepan, tiba-tiba ada batu besar menggelinding dari samping, atau ada yang melempar bomb dari atap rumah, ditambah musuh suka melakukan Ambush¬†dari segala arah, lalu Game Over, eits, tenang saja, game ini akan memberikan kita kesempatan tanpa batas. Apabila mati, kita akan kembali ke checkpoint (Shrine) dengan keadaan sehat walafiat, tetapi…kita akan kehilangan EXP (Amrita) yang sudah susah payah kita dapatkan. Untungnya kita dikasih sekali kesempatan untuk mendapatkan kembali Amrita yang hilang, dengan cara kembali ke lokasi kematian kita sebelumnya dan menarik kembali Guardian spirit (nanti saya jelaskan tentang Guardian Spirit) kita yang tertinggal disana, masalahnya adalah, setiap kita mengulang checkpoint, maka semua musuh akan hidup kembali. Biasanya semakin banyak Amrita yang ditinggalkan maka semakin tegang perjalanan balik kita untuk kesana, karena bila mati lagi, maka hilanglah semua Amrita itu…

Saya ingat, dulu pernah kehilangan empat ratus ribu exp di Dark Souls 1, cuma karena lengah di keroyok tengkorak-tengkorak kecil. Percaya deh, rasanya GA ENAK bagaikan HAMPA, saya sempat merenungkan hidup sekitar 5 jam karenanya. So, yeah, berhati-hatilah saat mengambil kembali Amrita di Nioh. Untuk lebih jelasnya, Amrita digunakan untuk level up stats, semakin tinggi level kita, maka semakin banyak Amrita yang dibutuhkan.

Nah, yang menarik dari game ini, adanya sistem Ninja Skills Customization, yang bisa kita pelajari dan kita atur sesuai cara bermain kita. Tiap skills membutuhkan jumlah point yang berbeda. Contohnya adalah, kita bisa mempelajari skill Counter, Kick Combo (untuk menghabiskan stamina musuh), Timed Changing Stance untuk secara instan memulihkan sebagian stamina yang hilang, daaaann lain-lain. Skills ini menurut saya sangat penting, bukan cuma menyamankan kita bermain, tapi juga sangat efektif untuk bertarung, banyak sekali type musuh yang akan kita hadapi, maka kita juga butuh lebih banyak strategi untuk melawan mereke.nioh-last-chance-trial_20170122212000

Equipment di game ini juga lumayan menarik untuk di buru, karena senjata dan pakaian yang kita dapat mempunyai rank yang berbeda walaupun jenis dan namanya sama. kita bisa lihat hirearki mereka berdasarkan warna, sejauh ini di demo yang saya lihat, ada Putih, biru, kuning dan ungu. semakin tinggi rank memberikan special effect dan tambahan stats yang menarik. Kita bisa mengambil semua equipment itu selagi masih ada inventory kosong, tak perlu kuatir bila mengambil terlalu banyak, kita bisa mempreteli (Diassemble) perlangkapan yang tak digunakan, sebagai gantinya mendapatkan materials, dan materials itu bisa digunakan untuk menempa equipment baru, menarik bukan? tentu saja kita harus membayar jasa Blacksmith (FYI: Blacksmithnya imut)

Untuk recovery items, ¬†setiap memulai stage kita akan dibekali dengan beberapa elixir (seingat saya 3 buah), tetapi dengan mengumpulkan Kodama (sejenis kodok, mirip anime keroro gunso, walaupun saya ga suka nonton tapi saya tahu) yang tersebar secara tersembunyi di tiap stage, mereka akan membekali Elixir lebih banyak saat kita checkpoint di shrine. Kodama juga bisa memberikan Blessing (dengan bayaran tentunya) yang menyebabkan efek persentase drop items dan amrita menambah sekian persen, jadi ada bagusnya player selalu menelusri area secara menyeluruh untuk menemukan lokasi mereka. Dan banyak sekali items jenis lain yang bisa digunakan untuk menyerang atau memberikan element tambahan, saya tak akan membahas itu disini, biar kalian saja cari sendiri, karena…ya banyak.

Game ini mempunyai sistem guardian spirit yang bisa kita gonta-ganti di shrine, efek mereka akan mempengaruhi stats yang unik, contohnya, apabila kita menggunakan guardian spirit isonade, kita punya kemampuan “sense enemies”, stats attack menambah, tapi menurunkan ¬†beberapa stats yang lain. Guardian Spirit juga memberikan kita state Living Weapon, istilahnya Berserk Mode, dimana senjata kita akan menyala (warna dan efek tergantung guardian spirit yang kita pakai), HP dan Ki digantikan oleh Spirit Meter, saat spirit habis, maka kondisi player kembali normal. Tetap Waspada walaupun kita kebal sementara waktu, karena bisa saja setelah kekebalannya hilang, kita sedang terperangkap, Waspadalah, wasdapalah!nioh-last-chance-trial_20170122222950

Overall

Well, dimulai dari yang paling basic, control karakter menurut saya cukup solid, dari langkah berjalan sampai cara karakter utama berlari dan pose memegang senjata, sama sekali tidak kaku. Untuk design level (di last chance demo, mission level 5) saya rasa cukup bagus, kesan gelap dan misteriusnya dapat, dan lika-liku jalan yang harus ditelurusuri tidak terlalu membuat saya pusing, saya suka sekali saat memasuki rumah kecil dan dikagetkan oleh hantu payung kecil yang terbang kesana kemari sehingga saya harus lincah bergerak menghindar dan menyerang balik dengan cepat, puas rasanya. Apalagi saat menembak head shot musuh dari jauh, saya pribadi belum terbiasa dengan kecepatan camera saat melakukan ranged attack, memang tidak semulus shooting game, tapi tidak terlalu kaku juga, cuma terasa lambat.

Saya cuma suka kesal sendiri setiap Ki saya habis, menurut saya, penalty Ki ini sangat merugikan di awal-awal game, karena untuk menjaga Ki tetap stabil butuh konsentrasi tinggi, sering sekali musuh berada di posisi rentan tetapi saya kehabisan Ki dan sebagai gantinya saya tak punya waktu untuk menghindar saat mereka kembali menyerang, itu sangat fatal, biasanya 1 hit kill, atau Apes Hit kill (ga mati, cuma apes, abis itu jatuh dan bye-bye) terutama saat lawan boss….hadeeeeehh.

Saya sarankan untuk level up Ki dulu di awal-awal game, terutama untuk pemula, saya sendiri saja belum terbiasa dengan penalti stamina Ki ini, dulu di game-game Souls Genre yang lain, mereka sama sekali tak berikan stamina penalti. Jadi ini sesuatu yang baru untuk saya, sesuatu yang meyebalkan! but i will get used to it. AH! saya lupa kasih tau, kita bisa melihat Ki musuh juga, mereka pun akan rentan Killer Moves saat Ki mereka habis, dekati dan tekan Strong Attack untuk berikan damage yang besar dan itu cukup memuaskan untuk saya.

Masih ada beberapa hal yang belum di aplikasikan di demo game ini, kurang lebih inilah yang saya ketahui tentang game Nioh, its good demo. I’m looking forward for the full game.nioh-last-chance-trial_20170122222933

By the way, game ini ada fitur multiplayer, untuk menjadi host, player butuh item bernama Ochoko yang dipersembahkan di shrine untuk memanggil player lain, kalau mau menjadi helper, player bisa ke Tori untuk menunggu panggilan player lain. Untuk sesama teman, game ini menyediakan sistem password untuk mencegah dipanggil player lain secara acak. Ochoko bisa didapatkan dari melawan Ghost player lain yang bertebaran dimana-mana (online mode), mereka kadang drop equipment dan kadang Ochoko salah satunya.

Well, cukup sampai sini saja pembahasan Nioh, mungkin setelah full gamenya keluar, saya akan update artikel ini.

see ya.

Oh, satu lagi, saya juga seorang seller game. Untuk membeli game dari saya, bisa follow dan add:

IG: @Sevenifitystore (shop only), @Sevenifity (Personal gaming expression)

Line: Sevenifity

Happy gaming guys~

Me as Video Games seller

Selling games is also the form of my appreciation to the developer whose worked themselves very hard to create all of these digital art for our plain reality.

Imagine if we live without them.
I remember I ever read an article about a place where they did an experiment to remove radio and TV in certain human community.
I think its in village somewhere, I can’t remember for certain which year i read that article, If I’m not mistaken, its like more than ten ¬†years ago or so…
Based on how I remember about that experiment, after few days or a week from the removal of TV and Radio. its proven (based on the article) that most male adult finding their entertainment through alchohol drinks and gambling in their daily activity, and these are also applied for the people who doesnt do these kind of habits in the first place.
Which is, I think its indirectly bad for the children’s daily influence, while at the same time they also lacking of entertainment at home (yes, they also can play outside, but remember, not everybody loves sport and physical activities, there also children who prefer to stay at home and do something else like read books etc).
Its hard to argue that drunk habit will also affect whole family and lead to violence.
Home is place for people, without it, naturally they will wreak it upon something more unhealthy things.
I think sane people doesnt want this thing to happen in their lifes (“Sane” in a matter as general definition)
And me too which i refer myself being sane in my own way, truly grateful if we can avoid the massive worst human behavior in daily life.

So, I can proudly see Gaming Entertainment as cure and remedy for something positive/productive in this unavoidable society of ours.
Games also contains Art ( I see “Art” in refer of graphics and music) and Philosophy (some games has literature which telling hidden/obvious messages about how we perceive things in different mind)

I can’t proof the validation of vague memories of mentioned article above, I tried to google it, but unfortunately I have not prevail to find it.
But just like I said from the first place…

“Imagine” if we live without them.

But its also has open possibilities, that people can work together for better habit even without gaming entertainment.

While the reality we have right now is…

Video games do exist.

So, here i am to appreciate it.

-Seven The Timeless Gamer.

 

IG: https://www.instagram.com/sevenifitystore/?hl=en

FB: https://www.facebook.com/7storeGamingEntertainment/?pnref=lhc

FINAL FANTASY XV -The Journey With Friends

Dulu saya ingat, entah itu kapan, sepertinya 9 atau 10 tahun lalu, tak tahu itu bulan apa dan hari apa, saya melihat trailer game Final Fantasy Versus XIII dan tercengang “Waaaa gilaa keren banget!” begitulah expresi saya sambil melotot. Saya nonton itu dengan teman saya (yang saya tidak ingat dia siapa, sebut saja namanya Subur) tapi setelah menonton trailer itu kami berbincang-bincang tentang game ini dengan seru sekali, penuh dengan antusias dan eskpektasi.

Dan….

1 tahun berlalu

Tak ada kabar mengenai game ini…

2 tahun berlalu…

Mulai bertanya-tanya dalam kehampaan…

3 tahun berlalu…

Sering sekali melihat teriakan-teriakan berbentuk tulisan di forum-forum dan website game tentang FF Versus XIII…

5 Tahun berlalu…

Subur menghilang dan terlupakan…

7 tahun berlalu…

beberapa tahun itu saya sibuk dengan puluhan game lain…

dan…

Present Day

Ya! finally game ini rilis di tanggal 29 November 2016. Kurang lebih 10 tahun semenjak trailer pertama muncul di internet, banyak hal terjadi dalam 10 tahun itu, yaitu berita pembatalan game, console PS4 rilis, berita mengejutkan kalau game ini sebenarnya masih dalam development, pengumuman pergantian nama Final Fantasy Versus XIII menjadi Final Fantasy XV, pengubahan playable character, gameplay baru, bahkan story pun diubah, Stella diganti menjadi Lunafreya daaaaan lain-lain.Ditambah saya masih tak ingat Subur itu siapa.

final_fantasy_xv_logo
Please welcome FINAL FANTASY XV

Tapi semua itu sudah berlalu, yang paling penting adalah game ini terealisasi dalam bentuk nyata dan berhasil saya mainkan di PS4 dengan sukses *BGM: Victory fanfare

Oke sekarang kita bahas gameplaynya yaaa~

Gameplay in General

(Battle, Weapons, Magic, Summon, Items)

Hal yang paling membuat saya antusias adalah gameplay dengan konsep fast paced action RPG dan control yang smooth.Battle di FFXV menurut saya sangat menarik karena saya bisa mengganti senjata/Magic kapanpun saya mau dan bisa warp dalam jangkauan yang jauh, sehingga saya tak perlu melakukan gerakan-gerakan yang tidak menguntungkan dalam battle. Setiap senjata pun mempunyai animasi yang berbeda yang bisa menguntungkan atau membahayakan tergantung kondisi. Magic bisa dibilang sangat powerful tetapi lagi-lagi bisa membahayakan party member yang lain, saya menganggap magic di game ini sebagai Bomb/Grenade apabila di game shooter macam Call of Duty atau Battlefield.

final-fantasy-xv_20170102022203

Teamwork dalam battle juga sangat menakjubkan, Link Attack akan secara konstan teraktivasi apabila ada party member didekat anda, animasi gerakan-gerakannya sangat keren dan tak akan bosan dilihat terus-terusan (saya suka spontan teriak “ow yeah! thats cool yo!” setiap melakukan link attack), favorit saya X-Strike kombinasi Noctis dan Ignis.

Kita juga bisa memberikan perintah serangan kepada party member lain, dalam game ini disebut Technique. Untuk menggunakan Technique ¬†dibutuhkan ¬†Tech Bar (maximal 3 Bar), Tech-Bar akan selalu terakumulasi dalam battle. Setiap party member mempunyai Technique yang berbeda, Gladio fokus di serangan dan defense, Ignis mempunyai magic dan recovery, Prompto bisa mendebuff musuh…dan memotret musuh, yup motret….iya saya tahu, skill ini sama sekali tak berguna selain untuk fun hahaha (WARNING: Prompto mempunyai persentase KO terbanyak dalam battle, ¬†karena dia suka terpeleset dan memotret disaat-saat genting, tapi, ya itulah Prompto :P). Technique juga bisa digunakan untuk menyelamatkan diri, karena setiap kita menggunakan technique, anda dan party members yang terlibat akan “kebal” selama animasi Technique terjadi, saya sering memanggil Prompto saat dia sekarat supaya tak jadi KO, hahaha.

Oh iya, kita juga bisa mendapatkan banyak ability baru untuk party members yang bisa diperoleh melalui Ascension menu, setiap ability membutuhkan jumlah AP yang berbeda, AP bisa kita dapatkan melalui battle, story, quest, explorasi dan lain-lain. Semakin kuat ability yang diinginkan maka semakin banyak AP yang dibutuhkan, bahkan ada yang sampai 999 AP, saya sampai menghela nafas melihatnya.  Jadi, gunakanlah AP dengan bijak, karena mendapatkan AP tidak semudah kita level up.

Kita kesampingkan masalah AP, Well, sebagai keturunan raja-raja Lucis, Noctis akan diberkahi”Royal Arms”. Dalam story, Noctis akan mendapatkan senjata khusus dengan banyak bentuk dan animasi berbeda, spesifik untuk Royal Arms. Sayangnya efek menggunakan Royal Arms selalu mengurangi HP anda di setiap ayunan. Senjata-senjata ini sangat keren, tetapi sangat berbahaya untuk digunakan. Tapi setahu saya, stats yang diberikan senjata ini tetap efektif selama anda pakai di weapon slot walaupun tak digunakan untuk menyerang. selain itu, dalam proses story, Noctis akan mempunyai minimal 4 Royal Arms, dan saat itu ada ability serangan baru bernama “Armiger”, anggaplah ini Trance Mode. Saat Armiger teraktivasi, anda tidak akan stagger atau terpental oleh serangan musuh, serangan anda pun akan menjadi sangat cepat, bukan cuma itu saja, untuk final attacks anda bisa mengaktivasi Armiger-Chain, bisa dibilang ini adalah Limit Break Noctis, salah satu serangan terhebat di game ini, nanti anda coba saja sendiri. Yang saya sayangkan, sampai detik saya menulis artikel ini, game ini belum menyediakan accesory yang nullify HP depleting for using Royal Arms. saya harap mereka akan memberikan accesory itu di patch selanjutnya.

final-fantasy-xv_20170101221444
13 Royal Arms to collect

Sebelum saya membahas lebih jauh, saya akan memberi informasi bahwa Final Fantasy XV diciptakan bukan cuma untuk veteran gamers, tetapi juga untuk first timers. Jadi saya memaklumkan betapa banyak kemudahan/bantuan yang di implementasi dalam battle game ini.

Kemudahan dan bantuan yang saya maksud adalah dalam hal pertahanan dan pemulihan karakter. Dalam battle, defend bisa dilakukan hanya dengan menahan satu tombol, ya, hanya dengan menahan 1 tombol anda secara otomatis akan terhindar dari hampir semua serangan musuh, selama posisi anda memungkinkan, tetapi defend akan menguras  MP anda, apabila MP habis, maka anda bisa recover MP dengan cara berlindung dan quick rest di warp point. Hampir setiap battle tersedia warp point, anda cukup melihat icon warp point dilayar dan tahan tombol warp, dalam sedetik-dua detik maka 100% MP akan pulih. Penggunaan Items dalam game ini juga sangat mudah, dalam 95% kondisi battle apapun, anda bisa membuka item menu dan mengkonsumsi items macam Potions, Hi-Potions, Megalixir, Phoenix  Down tanpa batasan. bahkan bila semua party members KO, Noctis masih bisa menggunakan Mega-Phoenix untuk full recovery ke semua party members. Jadi tenang aja, anda tidak akan game over selama masih ada persediaan recovery items. Tapi, ada 1 dungeon yang melarang anda menggunakan items, dimana anda harus menyelesaikan khusus dengan keahlian anda, jujur saja, saya merasa sangat tertantang untuk menyelesaikan dungeon itu, sayangnya sampai saat ini cuma ada 1, saya harap development team mengeluarkan 100 lagi hard dungeon dengan items restriction, hahaha

Para penggemar Final Fantasy pasti kenal yang namanya Ifrit, Shiva, Ramuh, Bahamut dan lain-lain. Tentu saja mereka pun hadir di game ini sebagai Makhluk yang sangat kuat, benar-benar bagaikan dewa. Seiring berjalannya story, mereka akan membantu anda dalam battle. Ya, mereka bisa membunuh semua lawan kita dalam sekejap. Biasanya mereka akan muncul saat Noctis dan teman-teman dalam bahaya atau apabila battle berjalan terlalu lama, tetapi itu tetap keputusan anda untuk menerima bantuan mereka atau tidak. Animasi summon sangat ajaib di game ini, seringkali membuat saya tercengang, ditambah musik yang terdengar epic. Lucunya, kita tak bisa memanggil secara spesifik siapa yang akan membantu kita, tergantung kondisi dan lokasi, mungkin Titan yang akan datang, selanjutnya Kakek Ramuh, suka-suka mereka saja. Intinya mereka ada untuk membantu kita dan mempermudah battle. Sebagai pencinta tantangan dalam game, saya harap suatu saat ada content tambahan untuk melawan para summon ini secara fair, hahaha

ffxv_afrojack_trailer_ramuh
Judgement Bolt

Kurang lebih itulah bantuan-bantuan yang kita bisa dapatkan untuk memudahkan perjalanan kita dalam game. Jadi apabila anda gamer yang tidak suka game-game sulit, game ini dijamin bisa anda nikmati, sebaliknya untuk gamer veteran, anda bisa menantang diri anda untuk tidak menggunakan fitur-fitur kemudahan game ini, contohnya use No items, No Summon dan No Exp (dengan menggunakan Nixperience Band Accesory via Free Holiday Pack DLC), tak ada yang melarang anda untuk bermain dengan cara ini. Oke, kita lanjut ke bahasan berikutnya.

Story and The Journey with my Friends

(Characters, Cutscene, Exploration, Side Quests, Food and Camp)final-fantasy-xv_20161212163528

Cerita FFXV dimulai dari keberangkatan Pangeran Noctis dan teman-teman untuk bertemu sang mempelai wanitanya yang bernama Lunafreya di Altissia. Tapi…..tiba-tiba mobilnya…….mogok.

Oke, cukup sampai situ story yang bisa saya ceritakan, karena ada baiknya anda menikmati sendiri tanpa kena spoiler (untuk para pencinta spoiler, saya yakin anda sudah melihat itu di semua sosial media).Well,  secara keseluruhan, story di game ini sangat pendek, bisa anda selesaikan dalam kurang lebih 20 jam. Eits! jangan kecewa dulu, gini ya, menurut saya pribadi, game ini point kuatnya bukan di story, tetapi di 4 karakter favorit kita ini. Ya, game ini menurut saya bukan cerita tentang cinta-cintaan sang pangeran dan perang-perangan kerajaan yang bisa anda dapatkan di ribuan game, TV atau novel yang tersedia ditoko buku terdekat. Saya mengerti kalau development team FFXV mengubah  game ini kearah berbeda, menurut saya FFXV yang terealisasi adalah tentang perjalanan Noctis, Ignis, Gladiolus dan Prompto. The Brotherhood. Friendship and Loyalty.

Sekarang saya akan menceritakan game ini disudut pandang pertama saya, berdasarkan pengalaman dan perasaan saya sendiri.

Dalam game, saya menemukan side quests, dimulai dari hunt, mencarikan barang-barang yang hilang, memancing, mencari kodok, menjepret foto landscape dan sampai mencari peta harta karun.Ya, beberapa hal terasa begitu sepele kan? Tapi semua itu terbayar dengan betapa menyenangkannya proses perjalanan mencapai tempat-tempat yang dituju. Game ini memberikan nyawa kepada karakter-karakter dalam game, sehingga saya merasa ikut didalam game bersama mereka. Saya menghabiskan waktu di game mengendarai mobil dan chocobo, karena setiap quest biasanya mengejutkan saya dengan lokasi-lokasi yang fantastik. Dari yang tugasnya cuma mengambil kaleng cat sampai akhirnya harus masuk ke dalam dungeon sewer gelap yang menantang, bahkan setiap saya bersama Noctis dan teman-teman memasuki area baru, mereka berempat pun juga sadar bahwa mereka tak tahu apa yang didepan mereka, semua itu terlihat, terdengar dan terasa dari cara mereka berjalan perlahan-lahan, berkomentar tentang keadaan sekitar, teriak panik (terutama Prompto, hahaha) saat kemunculan banyak musuh yang mendadak dan tercengang melihat pemandangan-pemandangan luar biasa. Saya pribadi merasakan petualangan yang begitu menyenangkan setiap memasuki dungeon baru, dan sebagian besar bisa ditemukan melalui side quest atau sekedar nyasar. Bahkan di awal-awal game saya merasa betapa mengerikannya melalukan perjalanan di malam hari, saya sempat cuek dengan peringatan Ignis untuk melanjutkan perjalan saat matahari terbit, mengakibatkan saya diserang Daemons sampai kabur terbirit-birit hampir kehabisan stock items, “What a bloody night” kata saya dalam hati, hehehe.

final-fantasy-xv_20161214030351

Hari demi hari saya lalui sambil mendengarkan perbincangan Noctis dan kawan-kawan yang lively. Apabila matahari mulai terbenam saat perjalanan, saya memutuskan mencari tempat camping terdekat. Dan Ignis akan memasak untuk kita semua, makanannya akan memberikan bonus stats kepada semua party members, saya biasanya minta Ignis membuat makanan yang terlihat enak dan statsnya bagus juga bahan-bahannya mudah didapat.Kadang juga saya tidak sengaja minta Ignis membuat makanan favoritnya Prompto, lalu tiba-tiba muncul event Tour Camp, yaitu quest pribadi tiap member bersama Noctis, feelingnya seperti ini: “Yo man, besok pagi bantuin gw donk, gw mau diem-diem ambil foto si Cindy dari atas tebing, anterin gw yak, plis donk plis” hahaha. Dan sempat juga Gladio minta bantuan Noctis untuk mencari bunga demi adiknya. Dan Ignis biasanya minta bantu memasak, tiba-tiba FFXV menjadi cooking game. Setiap member punya hobi masing-masing yang di kategorikan sebagai Skills pribadi mereka. Gladio suka loot drop dari musuh dengan tujuan survival, Ignis suka masak, Prompto suka fotografi dan Noctis suka memancing.

final-fantasy-xv_20161217144123

Saya suka sekali mini-game fishing di game ini, saya dulu ketagihan memancing di game Breath of Fire IV PSone dan menurut saya rasanya sebanding dengan fishing di FFXV. Walaupun saya suka kesal dengan Prompto karena dia sering teriak panik saat line fishing saya mau putus dan karena saya kaget jadinya linenya benar-benar putus, hahaha. Bukan cuma itu saja, Gladio juga suka komentar sarkas saat Noctis dapat ikan-ikan yang kecil, cuma Ignis saja yang tenang dan kalem.

Kota-kota yang saya hampiri di game ini terasa sekali didesain dari budaya dunia nyata, terutama Altissia, kota ini jelas sekali terinspirasi dari kota Venisia, Italy, terlihat dari bangunan dan gondola yang terlihat disekeliling kota. Membuat saya merasa jalan-jalan ke Venisia langsung, ya, maksudnya dalam mimpi, hehehe

Overall Feeling

(My experience playing this game)

Banyak sekali hal-hal yang tak terlupakan yang saya dapatkan di game ini, dimulai dari animasi battle yang sangat dahsyat, dulunya saya hanya bisa melihat battle macam FFXV melalui cutscene, tapi FFXV sebagian besar kita lakukan secara realtime, bisa dibilang cutscene di FFXV lebih sedikit dibanding FF series sebelumnya. Saya juga tak akan lupa moment-moment yang membuat saya tertawa bersama mereka, seperti yang saya bilang sebelumnya, game ini berhasil membuat para karakter ini hidup, seakan mereka punya jiwa didalam monitor TV (atau monitor lainnya), bisa dilihat dari ekpresi wajah, gerakan mereka dan juga voice aktor mereka yang menurut saya bekerja secara sempurna, saya memainkan game ini dengan english voice karena saya tidak bisa menerjemahkan langsung kata-kata spontan mereka bila menggunakan bahasa jepang, appresiasi hidup ini saya tujukan kepada para english voice aktor. Saya mungkin akan main ulang dengan voice aktor jepang nanti apabila ada waktu. Tapi saya akan bertanya dalam diri saya, apa mereka itu akan tetap menjadi orang-orang yang sama, yang saya kenal? Tapi biarlah itu menjadi pikiran saya pribadi. Ah, Saya juga cenderung memilih Ignis untuk menyetir mobil secara otomatis, dimana saat itu game saya tinggalkan untuk bekerja,mendengar musik OST FF lama, membaca buku, makan atau kegiatan sehari-hari lainnya didunia nyata dan saya kembali ke game setelah mendengar mereka telah sampai tempat tujuan, menurut saya itu sangat convenient.

Well, intinya saya sangat menikmati game ini dan sangat puas. Oh anyway, saya memainkan game ini secara 90% murni jauh dari influence media, yaitu, saya dalam waktu yang lama secara sengaja melewatkan banyak trailer-trailer gameplay (ya, saya melupakan  semua trailer-trailer lama), first 60 minutes gameplay dan berbagai macam teaser lainnya. Saya juga dapat game ini 2 hari lebih cepat dari global release date dan memainkannya dengan tenang sendiri demi mendapatkan esensi murni dari game ini sehingga saya bisa merasakan inti hasil nyata yang diberikan developer kepada gamer seperti saya.

Iya, saya tahu banyak sekali keluhan-keluhan dimana-mana tentang game ini, tapi saya tidak akan membahas hal itu, karena saya disini untuk apresiasi.

final-fantasy-xv_20161223223714
Thank you Square-Enix for realized this game. Especially Hajime Tabata and Yoko Shimomura, of course to the rest of the team too.

Tips from Sevenifity:

Seperti yang saya bilang tadi, cerita di game ini pendek, karena kita di era dimana digital media mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita. Jadi, game ini terpecah di berbagai media, ya, semua demi promosi. Well, Saya sarankan menonton Kingsglaive FFXV sebelum memainkan game ini, karena movie itu akan melengkapi event penting di chapter 1. Juga tontonlah Brotherhood FFXV untuk mengenal Noctis dan teman-teman lebih jauh, tersedia di PSN Store media, juga Youtube, sepertinya di XboxLive juga ada, tapi saya belum cek. Untuk kalian yang suka membaca, ada juga novel Departure mereka, saya pribadi berpendapat itu cukup bagus dan sedikit emosional, kalian bisa google novel itu nanti bila berminat. Jangan dengar soundtrack game ini bila belum main gamenya, lebih baik kalian mendengarkan musiknya secara langsung saat memainkan gamenya, akan tercipta unsur memorable yang berharga dikemudian hari, karena Musik di game ini benar-benar masterpiece, Yoko Shimomura mencurahkan jiwanya saat menciptakan musik-musik ini. Use headset while playing the game, and Last, just enjoy the game.

Too Much But Never Enough?
Yup, its never enough for me. Saya masih menginginkan lebih banyak dari game ini. Saya ingin implementasi expert/critical difficulty dengan pengubahan items limit, manual evading dan strict counter attack timing, ini untuk menambah rasa thrill saya saat battle. Penambahan lokasi eksplorasi dan dungeons. Tambahan playable characters (Informasi yang saya dapat, Cor, Aranea dan Iris akan playable via DLC), penambahan ending. Dan apapun selama game ini bisa terus dimainkan.

Gaming Phenomenon in Human Pattern Theory

The yearning of classic gaming that occured to the most of senior gamers community sure is happening almost everywhere.

As if senior gamers simply can’t accept the modern kind of gaming concepts, it’s refer to quality only based on graphics, gameplay, sex,¬† online multiplayer availability and competition but ignores literature, music and romance.

But is this really the case?
Is the new concept truly is to blame?

Then lets look at history.
At 18 century, The Age of Romanticism occured as the side effects on Industrial Revolution (considered as our current concept of gaming industry).
It’s where large sum of people make move to bring back the lost age.
How they yearn the lost civilization, lost thoughts and lost culture.
They dig, they learn, they see artifacts and literature as valuable art.
And how they see their current industrial revolution as uncultured, have no taste etc.

Then look at present time…(It’s end of august 2015 to be exact when I wrote this)
Now is the age of modern gaming industry where most of them used for money making commercial. And it’s occuring side effects of gamers yearning for more nostalgic feel, the old games considered as the most valuable art.
They started to make classic themed concept games (pixels, side scrolling, arcades) and see how newer games as uncultured and have no taste.

Don’t you think it’s so similiar?

Undeniably, History repeats itself.

So is the reason relevant?
I mean the ‘reason’ why all of these yearning of the lost, the past, the history.

Do reason is truly the case?

Or maybe, we…humans, simply indirectly forced to follow the pattern.
Many things already implanted in humanity since the first birth, it’s the program, the pattern, even in our evolved state, we still following the pattern program.

Aaand..

When the age of modernized classic high quality gaming brought back to most of civilization, it will create side effects of people yearning for modern commercial money making games.
And so on…

The norm and the contradiction pattern.

There are people who will do whatever they can to fit with society.
And there are people who against society to make their place fit.

I’m the proof of the second one.
Even no matter how deadly I’m against the society.
I am still inside the pattern of norm and contradiction, I realized that.

I’m sure many people already discovered the norm and contradiction pattern since ancient times, but this writing only to proof even the gaming industry can’t escape it.

Many people told us think outside the box.
I asked, where is the box?
I’m not only want to think outside the box, but I want to get out of the box, alive.

So…

Do
We
Have
Free Will?

Or, is free will actually only a delusion?

-Bonie Yudistira